KISAH SUFISTIK MBAH KYAI ABDUL KARIM, LIRBOYO, KEDIRI, JAWA TIMUR

Home / Tak Berkategori / KISAH SUFISTIK MBAH KYAI ABDUL KARIM, LIRBOYO, KEDIRI, JAWA TIMUR
Muhammad Basis alias Gus Muhammad (GM)

(Dikisahkan Oleh KH. Aziz Manshur, Pengasuh Ponpes Tarbiyyatun Nasyiin, Pacul Gowang, Jatim)

Mbah Kyai Abdul Karim Menangis Sedih Menerima Honor Mengajar
Dahulu ketika Mbah Kyai Abdul Karim masih nyantri, teman2nya selalu melakukan musyawarah di kamarnya seusai mengaji (yang pengajarnya adalah Mbah Waliullah Syechona Kholil, Bangkalan).

Mereka ingin benar-benar memahami ilmu yang diajarkan, karena Mbah Kyai Kholil Bangkalan ketika mengajar tidak pernah memberi tarkib lengkap/penuh.

Sehingga mereka harus musyawarah ulang jika memang benar2 ingin memahami pelajaran yang diberikan Mbah Kholil Bangkalan.

Mereka sering bertanya pada Mbah Kyai Abdul Karim tentang pelajaran yang pelik2 dan meminta untuk diajari oleh beliau.

Dan teman2 beliau tsb-pun bersepakat untuk memberi bisyaroh (honor) tiap selesai musyawarah, karena mereka tahu bekal beliau sudah habis. Tiap ada yang memberikan uang, langsung Mbah Abdul Karim masukkan ke bawah tikar.

Setelah beberapa waktu, Syaikhona Kholil, pengasuh pondok, memerintahkan santri2 pondok untuk membersihkan semua kamarnya dan tikar2 harus dijemur.

Saat Mbah Abdul Karim mengangkat tikar, beliau amat sangat terkejut, karena ternyata ada uang di bawah tikar terkumpul sangat banyak.

Beliau kemudian menangis terisak-isak, sambil berkata, “Ya Allah Gusti…yang hamba cari bukan ini, Gusti. Ilmu hamba jangan Engkau ganti dengan uang ini, Gusti. Bukan ini yang hamba cari. Namun kalau ini merupakan rejeki hamba, janganlah merupakan ganti dari ilmu hamba, Gusti. Uang2 ini jangan sebagai ganti dari hamba mengajarkan ilmu2 hamba. Uang2 ini, semua adalah rejeki dari-Mu. Hamba ikhlas, Gusti…!”.

Mbah Kyai Abdul Karim Dikerjai Calon Santri Baru
Pada suatu hari (diperkirakan tahun 1920-an) datanglah seorang pemuda yang baru turun dari dokar di dekat area pondok.

Dia membawa perbekalan lumayan banyak dari rumah, sehingga merasa berat untuk membawanya sendiri.

Kemudian pemuda calon santri baru itu melihat ada orang tua yang sedang berkebun. Versi lain mengatakan sedang memperbaiki pagar tembok.

Melihat didekatnya ada orang tua, pemuda itu bertanya dengan bahasa Jawa halus : “Pak, anu, kulo saumpomo nyuwun tulung kaleh Njenengan, menopo nggih purun? (Begini, Pak, seumpama saya minta tolong Bapak, apa berkenan) ?ā€, tanya pemuda itu.

“Nggeh, nopo!”, jawab orang tua tsb di kebun itu.

“Niki kulo mbeto kelopo lan beras. Kulo bade mondok teng kilen niku. Tulung Njenengan beto’aken ! (Ini saya membawa kelapa dan beras. Saya mau mondok di barat itu.Tolong Bapak bawakan !),ā€ pinta pemuda tersebut.

“Oh, nggih Mas, kulo purun (Ya Mas, saya mau),ā€ balas orang tua itu.

Lalu dengan senang hati orang tua itu membantu membawakan bekal berupa beras dan kelapa milik pemuda tadi, dengan agak ngos2an, sampai di kompleks kamar santri.

Para santri lama yang menyaksikan peristiwa itu terheran-heran, kok kiainya mengangkatkan barang milik calon santri barunya.

Akhirnya betapa amat sangat malunya pemuda santri baru tersebut, setelah mengetahui bahwa ternyata orang yang kemarin dia perintah membantu membawakan barang perbekalannya itulah yang menjadi imam shalat di masjid.

Ternyata orang yang mengimami shalat tersebut adalah kiai pengasuh pesantren alias Mbah Kyai Abdul Karim.

Karena kesederhanaan penampilannya, sang pengasuh pesantren disangka orang desa atau petani kampung yang sedang bekerja.

Sang santri baru benar2 malu luaaar biasa !. Sebab, orang yang membantu mengangkatkan barangnya tsb adalah KH. Abdul Karim, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur.

Semoga kita bisa meneladani tindak lampah Mbah Kyai Abdul Karim tsb dalam berkhidmah ajarkan ilmu dengan ikhlas (tanpa mengharap dan mempedulikan imbalan).

Semoga, saudara2 saya yang kyai ponpes, kyai/gus/ajengan penceramah, buya, ustadz, pengasuh ponpes, penceramah agama, para ustadz yang ceramah2 di TV-TV, penyanyi nasyid, penyanyi hadhrah, penari sufi, spiritualis, paranormal dan siapapun mereka yang berkiprah di lahan dakwah bil-lisan (dakwah melalui suara) ataupun dakwah bil-ilmu atau bil-haal, tidak terjerumus untuk memperkaya diri di lahan tsb, aamiin 3 x.

Beliau2 tidak jor-joran gede2an tarif ceramah atau mengajar atau menerima pasien/tamu atau tampil menyanyi/hadhrah/menari sufi. Tidak balapan mahal2an dalam terapkan tarif tampil manggung, biaya pendidikan di ponpes atau lembaga agamanya atau dalam prakteknya. Sebab, lahan dakwah BUKAN untuk adu cepat ngumpul2kan kekayaan bin memperkaya diri. Dakwah BUKAN bisnis !. Dan, dakwah AMAT BEDA dengan lembaga partai atau lembaga bisnis !.

Semoga kita selalu mendapat barakah dan rahmah-Nya, aamiin 7 x.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *