Antara Bu Sukmawati dan Pak Adnan Menderes.

Home / Tak Berkategori / Antara Bu Sukmawati dan Pak Adnan Menderes.

Lagi rame masalah puisi bu Sukmawati yang bawa2 Syariat Islam, cadar dan adzan. Saya jadi teringat akan sosok Adnan Artekin Menderes, mantan Perdana Menteri Turki Tahun 1950-1960 yang terkenal dengan julukan “Syahid Adzan”. Biar lebih tahu kisah dibalik julukan ‘keren’ yang disematkan padanya, monggo kita simak sejarahnya.

Adnan Menderes

Tahun 1924 pasca runtuhnya dinasti Ustmaniah (Ottoman) Turki (yg sebenarnnya Awal kehancuran sistem pemerintahan Islam/Khilafah Islamiyah,karena yg menulis sejarah itu kaum orientalis yg tdk suka dgn Islam,maka khilafah Turki Utsmani disebut Dinasti/Otoman Turki dgn tujuan menghapus sejarah kegemilangan khilafah selam 1300 th lbh(622 m s/d 1924 7 m) berada dalam kekuasaan penuh Musthafa Kemal Attaturk, ia yang bersama parpolnya Republican People’s Party(CHP) mengusung misi untuk menskulerkan Turki dan memisahkannya dari semua hal yang berbau Arab dan Islami.

Imbasnya Syiar-Syiar Islam di Turki mulai dipreteli. Madrasah-madrasah Islam ditutup paksa, bahasa Arab dilarang dipelajari di sekolah2. Jilbab, apalagi cadar bagi muslimah wajib di copot dan diganti dengan busana khas noni-noni Eropa, Rakyat Turki tidak boleh lagi berhaji. Dan yang paling parah Adzan tdk boleh dikumandangkan lagi, Kalo mau adzan gak apa-apa tapi harus make bahasa Turki !!!

(Untung saja di negeri kita nggak pernah ada orang yang nasionalismenya kebablasan sampai2 punya wacana mengganti adzan dengan bahasa daerah.
Alangkah “ngakak”nya negeri ini kalo adzan dilantunkan dengan bahasa Tegal, Batak, Sunda, Jawa atau bahasa Madura).

Tapi meski bagaimanapun, Allah tak pernah mau Cahaya keagungan-Nya meredup, tatkala keadaan Islam di Turki tampak begitu menyedihkan saat itu, Allah ‘mengirim’ seorang bernama Adnan Artekin Menderes.
Siapakah dia?
Awalnya ia termasuk bagian dari Partai CHP yang diketuai oleh Attaturk. Ia bahkan pernah menjadi Anggota parlemen dari partai itu.

Tapi pada tahun 1945, ia keluar dari CHP dan mendirikan partai baru yang bernama Democrat Party (DP), dan di partai inilah Menderes Mulai berjuang untuk menggapai cita-cita agungnya : Mengembalikan cahaya-cahaya Islam ke Bumi Turki.

Pada tahun 1950, Menderes dan partainya mengikuti pemilu, dengan mengusung beberapa visi dan misi yang diantaranya : Mengizinkan Rakyat Turki untuk melaksanakan Ibadah Haji, Mencabut Intervensi Pemerintah atas busana Muslimah, mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Arab dan mengizinkan Masjid-Masjid untuk mengumandangkan Adzan dengan Bahasa Arab.

Dengan Visi dan Misi itu, Tanpa diduga Partai Menderes yang sempat dipandang sebelah mata berhasil mendapatkan 318 kursi di Parlemen, menang telak atas Partai CHP-nya Attaturk yang hanya mendapat 32 kursi.

Menderes Akhirnya resmi dilantik sebagai Perdana Menteri baru di tahun itu. Setelah menjabat, ia mulai merealisasikan janji-janji kampanyenya. Orang-orang Turki boleh naik Haji lagi, Busana-busana Muslimah bisa dipakai kembali, Pendidikan bahasa Arab mulai digalakkan di sekolah-sekolah dan Adzan kembali dikumandangkan dengan Bahasa Arab setelah bertahun-tahun dilantunkan dengan bahasa Turki.

Pada tahun 1954 Partai Menderes kembali mengikuti pemilu, dan kali ini partainya kembali menang dan mendapakan kursi yang lebih banyak dari pemilu sebelumnya. Menderes-pun kembali meneruskan “ulah-ulah”-nya. membangun sekolah-sekolah bahasa Arab, merenovasi 10 ribu Masjid, dan membangun ribuan Madrasah.

Tapi aksi paling ‘keren’ yang dilakukan Menderes pada masa jabatan keduanya ini adalah mengusir Dubes Israel dari Turki pada tahun 1956 !!!

Akibatnya, Barat, Israel dan konco-konconya marah besar dan direncanakanlah makar untuk menggulingkan Menderes dari kursi pemerintahan.

Setelah berbagai konspirasi dilakukan, akhirnya mereka berhasil mencapai kesepakatan dengan militer Turki untuk mengkudeta Sang Perdana Menteri.

Puncaknya pada tahun 1960, Militer Turki yang dipimpin oleh Jendral Camar Cursel berhasil mengkudeta PM. Menderes. Ia ditangkap, Partainya dibekukan dan setelah diadili Menderes diputuskan untuk dihukum Mati di tiang gantungan dengan tuduhan : mengembalikan Adzan dari Bahasa Turki ke bahasa Arab dan berusaha merubah Negara Sekuler Modern Turki menjadi Negara Islam seperti sedia kala.

Pada 17 September 1961 PM. Menderes dihukum mati di tiang gantungan. Ia mengakhiri hidupnya dengan kalimat yang sampai saat ini dikenang oleh rakyat Turki :

” Saya akan mati.. dan saya harap rakyat dan negara ini akan selalu bahagia.. “

Jadi untuk bu Sukmawati,
lihat tuh bu….puluhan tahun lalu ada seorang yang berjuang sebegitu gigihnya demi kesucian Adzan yang ibu bilang kalah merdu dibanding suara kindung itu. Taruhannya gak tanggung-tanggung bu.. bukan duit jutaan dolar, tapi nyawa….sesuatu paling ‘mahal’ yang bisa dikorbankan seorang manusia.

Nama Adnan Menderes masih harum sampai saat ini diseluruh penjuru Turki. Bahkan disegenap penjuru dunia….setiap lantunan indah adzan menggema dari masjid-masjid Turki, nama Adnan menderes selalu terpatri dalam sanubari.

Keren kan bu???

Ibu mungkin juga belum pernah tahu, bahwa suara adzan pernah membuat ribuan Sahabat Nabi seantero Madinah menangis haru. Penyebabnya adalah kembalinya suara Adzan Bilal setelah beberapa tahun tak pernah terdengar di kota Madinah, karena Sang Muadzin hijrah ke Negeri Syam Pasca wafatnya Nabi. Suara Adzan yang mengingatkan mereka akan memori indah bersama Baginda Rasulullah, tentunya bagi mereka Suara Adzan itu jauh lebih berharga, bahkan melebihi indahnya kindung Bidadari-bidadari surga (apalagi cuma kindung emak2 yg bu Sukma bacakan di puisi murahan itu).

Saya mah kalem aja bu, meskipun saya termasuk barisan sakit hati karena puisi ibu itu, saya gak mau marah dan mencaci maki ibu Sukmamati, Baginda Nabi telah berpesan pada kita untuk berprilaku sopan pada orang yang lebih tua, apalagi ia yang sudah lanjut usia seperti ibu Sukma….

‎إن من إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم

Saya cuma bisa nyumbang doa aja bu….semoga cahaya hidayah segera menghinggapi ibu, hingga ibu bisa segera berjilbab rapi dan rajin mengaji, sebelum datang hari dimana ibu akan terpaksa menutupi seluruh tubuh ibu dengan “cadar” berwarna putih, dihari itu ibu sudah tak bisa lagi berkonde dan berpuisi, dan disaat itu suara adzan akan menggema indah di atas langit kuburan, tak kan ada lagi kindungan…apalagi kondangan.
======================

Ismael Amin Kholil, 17 Rojab 1439 H.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *