Peran Ahlith Thoriqoh Dalam Dalam Menjaga Nkri Dan Membentuk Karakter Bangsa

Home / Tak Berkategori / Peran Ahlith Thoriqoh Dalam Dalam Menjaga Nkri Dan Membentuk Karakter Bangsa

Peran Ahlith Thoriqoh Dalam Dalam Menjaga Nkri Dan Membentuk Karakter Bangsa

Membangun karakter Umat dalam rangka mempertahankan NKRI melalui Tarikat, Latar Belakang Tarekat sebagai inti dari ajaran tasawuf telah masuk ke Indonesia sejak awal bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia, yaitu sekitar abad ke 12 Masihi. Bukti-bukti yang bisa dijadikan argumentasi adalah Islam yang di bawa oleh Wali sembilan ke Indonesia adalah islam yang bercorak sufi dan sekaligus pengamal tarikat. Sisi lain dari ajaran tarikat yang banyak dikaji oleh para peneliti adalah ajaran tarikat itu sendiri yaitu memunculkan kasing sayang dan kebijaksanaan yang abadi antar umat manusia. Di Barat ajaran sufism dipopulerkan oleh Guenon, seorang ahli metafisika asal Perancis. (Ichtiar Baru Van Hoeve; vol. 6;395, 2005) lebih-lebih dalam prakteknya guru-guru spiritual tasawuf ini telah terbutki mampu melakukan penetrasi ke berbagai wilayah dunia dengan melakukan adaptasi terhadap nilai-nilai lokal sehingga penyebaran Islam model ini tak terkecuali di Indonesia dapat dengan mudah diterima di lingkungan barunya karena keberhasilannya dalam beradaptasi dengan lingkungan lokal. Bertolak dari uraian di atas, maka tulisan berikut berupaya mencari penjelasan bagaimana tarikat sebagai inti tasawuf membangun karakter/spiritualitas umat Islam di Indonesia? ke dua bagaimana tarikat sebagai unsur penting dalam tasawuf dalam menjaga keutuhan NKRI ?

  1. Inti ajaran tarikat dalam tasawuf

Tasawuf sebagai induk dari tarekat tidak diragukan lagi telah berjasa amat besar terhadap kehidupan spiritual dan intelektual Islam di Indonesia. Pengaruh tasawuf telah menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat dari elit-nya sampai masyarakat bawah. Sebagai ajaran, tasawuf telah mempengaruhi pola hidup, moral, dan sendi-sendi kehidupan meliputi kesadaran estetik, filsafat sampai tujuan hidup seseorang. Nama tarikat biasanya dinisbatkan kepada para pendirinya atau pada murid murid terkenalnya dari pendiri tarikat itu. Salah satu contoh tarikat Qodiriyah dinisbatkan kepada Syeikh Abdul Qodir al-Jilani, tarikat Chistiyah dinisbatkan kepada Syeikh Mu’inuddin Chisti dan seterusnya. Meskipun banyak sekali nama tarekat akan tetapi hampir semua tarekat memiliki kesamaan tujuan, yaitu mengajak beriman dan bertauhid kepada Allah. Sudah barang tentu ada perbedaan-perbedaan antara tarekat satu dengan yang lain karena perbedaan guru, tatacara amaliah, dan ritualnya. Hal itu tidak akan dikupas dalam tulisan ini

III. Prinsip-prinsip tarikat

Dalam pandangan sufi, tarikat adalah sebuah upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui jalan tertentu. Para guru sufi menuntun kepada para muridnya agar melakukan pembersihan hati dengan mengikuti sunnah Nabi, memperbaiki akidah, akhlak, dan menjauhi penyakit hati, seperti sifat sombong, khasad , ria’ dan seterusnya. Upaya demikian dilakukan oleh para sufi agar memperoleh ridha Allah dan tertanam cinta kepada Rasulnya dan guru-gurunya. Muhammad Ahamd Durniqat (Muhammad Ahmad; 1987, 7) melukiskan bahwa para sufi itu bukan tidak mau kepada harta, jika mereka menerima pemberian berupa hadiah-hadiah dari para pembesar, sesungguhnya harta itu bukan diperuntukkan buar dirinya, akan tetapi buat disalurkan kepada para fakir miskin, dengan demikian mereka haya berfungsi sebagai perekat antara si kaya dan si miskin sehingga tertanam rasa cinta kasih antar keduanya. Yang kaya merasakan nikmatnya memberi sedang yang si miskin akan merasa dicintai lalu membalas dengan hormat si kaya. Selain disebutkan di atas tujuan tarikat adalah sebagai berikut :

  • Untuk menyempurnakan iman kepada Allah dan Rasulnya
  • Menyempurnakan Islam dengan menetapi segala hukum Allah
  • Menyempurnakan Ikhsan dengan menjauhkan segala perbutan semata-mata karena Allah Tarekat Naqshabandiyah sebagai salah satu induk tarikat memiliki ajaran-ajaran yang sangat indah terkait dengan penggunaan waktu, misalnya seorang murid dalam kesehariannya harus meletakkan posisinya untuk selalu mengingat waktu dan setiap waktu harus disyukuri, sedangkan lupa akan waktu harus dianggap sebagai kesalahan. Setiap waktu harus selalu merasa diawasi dan dilihat Allah. Dengan demikian akan timbul suatu tindakan instropeksi diri secara terus menerus apa yang dilakukan, apa yang dia kerjakan dalam waktu-waktu yang dilewatinya. ( Ahmad: 1997: 26) Bagi sufi, ilmu dibagi menjadi dua yaitu ilmu dhahir  dan ilmu bathin. Ilmu dhahir  meliputi pekerjaan anggota tubuh seperti shalat, puasa, zakat, haji dan seterusnya. Sedangkan ilmu batin meliputi pekerjaan hati yaitu maqamat dan ahwal,  seperti iman, yakin, shidiq, ikhlas, zikir,  mahabbah, syauq, tawakkal, shabar, syukur, qana’ah ridha, taqwa, khouf, foja’ khayak  dan seterusnya. Baik dalam ilmu dhahir maupun ilmu bathin keduanya memerlukan pemahaman yang holistik. Lebih lanjut, dalam pandangan Ibnu Arabi, manusia diberi kedudukan sebagai  khalifah  karena alam dapat hidup dan terpelihara secara terus menerus karena adanya manusia. Dan Allah menundukkan segala sesuatu dalam alam ini kepada manusia tetapi bukan bukan berarti bahwa Allah menjadikann semua makluk di langit dan di bumi patuh kepada kehendak dan perintah manusia, tapi yang demikian itu dimaksudkan sebagai ujud dari kekuasaan Allah dalam menampakan  (Izhar)  semua realitas alam pada manusia semata. lebih lanjut khalifah di alam ini diberikan kepada manusia karena atas dasar kualifikasi yang dimiliknya, yaitu pada manusia terdapat keterpadua yang memberinya hak istimewa untuk memjadi khalifah karena dari aspek lahir manusia adalah makhluk dan dari aspek batinnya Tuhan (bisa dibimbing oleh Tuhan). (Kautsar Azhari Noer; Paramadina, 1995-134)

Dari pandangan di atas, berarti manusia bukan hanya memiliki keunggulan jasmani sehingga mampu menjalankan perintah syari’at, seperti shalat, puasa, dan haji, akan tetapi dari sisi Akal dan Qalbu manusia juga diberi kemampuan oleh Allah untuk melakukan tafakur, tadabbur , zikir dalam rangka menyerap bimbingan dari Allah subhanahu wata’ala  Terkait dengan pendidikan KH. A. Asrori dalam kitab  Muntakhobat nya mengutip pendapat Muhammad Abu Zahrah, bahwa dalam tasawuf terdapat tiga faktor utama,

  • menghidarkan diri dari mengikuti hawa nafsu dan menguasai diri dari segala godaan nafsu
  • menghubungkan ruh  dan nafs
  • Mengikuti dan diikuti, (Ahmad Asrori: 2007 Jilid I; 278) Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan iman adalah menjadi tujuan utama dari tarekat, karena kesempurnaan iman harus ditempuh melalui tahapan-tahapan dan amalan-amalan tertentu, maka tahapan demi tahapan pun harus dilalui oleh sang murid. Semua amalan tidak ada lain bertujuan untuk kebersihan hati dan kejernihan bathin, untuk itu diperlukan ilmu lahir dan ilmu bathin. Dengan ilmu lahir akan terjaga syari’at karena syari’at adalah bantuk dari aturan-aturan meliputi ibadah, muamalah, jinayah dst. atau yang disebut al-akhwal as-syahsiyah. Sedangkan ilmu bathin akan menerangi jiwa yang dalam kegelapan sehingga tertanam sikap dan perilaku yang seimbang dalam membantuk karakter murid dalam menempuh kehidupan dunia dan akhiratnya.
  1. Tarikat di Indonesia Di Indonesia

 selain tarikat-tarikat besar seperti Naqshabandiyah, Syadziliyah, Sattariyah, juga tercatat banyak lagi taikat yang berafiliasi pada Jam’iyyah thariqoh Mu’tabaroh , seperti  Sattariyah, Sanusiyah  dan  Tijaniyah  dan lainnya. Kedatangan Islam di Indonesia mulai sejak awal, terutama pada abad ke 14 dan ke 15 telah diwarnai oleh pemikiran tasawuf. Pemikiran Al-Gazali, Ibnu Arabi sangat berpengaruh terhadap pengamalan-pengamalan keseharian kaum muslimin di Indonesia. Tradisi yang bekembang biasanya para guru dikelilingi oleh murid-muridnya, mengamalkan zikir dan aurat tertentu sebagai amaliah kesehariannya lalu dari sistem semacam ini seorang pengikut tarekat yang memperoleh kemajuan dengan melalui sederet amalan berdasarkan tingkat yang dilalui bisa menjadi murid dari guru tarikat, selanjutnya bisa jadi karena kemajuan yang diperoleh itu dia diangkat menjadi pembantu guru, dan akhirnya menjadi guru yang mandiri. ( Musyrifah: 2010; 239) Menurut Martin van Bruinessen pada akhir paruh kedua abad duapuluh munculnya dua organisasi besar yaitu Nahdlatul Ulama (NU)1926 dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI)1930 yang didukung oleh para kyai ahli tarikat. Ke dua organisasi ini sama-sama pernah menjadi partai politik, dan sama-sama memiliki basis masa yang kuat.(Martin: 2007:99) Dalam pandangan Martin aktivitas politik pada masa itu tidak lepas dari dukungan tokoh-tokoh tarikat yang memiliki basis masa loyalis kuat. Dalam pemilihan umum 1955 kedua partai, NU dan PERTI sama-sama mendulang perolehan suara yang signifikan. Munculnya organisasi Dewan Musryidin yang di ketuai oleh H. Jalaludin dari Sumatera Barat adalah satu bentuk keterlibatan langsung tarikat dalam perplitikan di Indonesia. Akan tetapi meskipun mendapat dukungan basis masa yang banyak, karena kelemahan dalam birokrasi tidak bayak memberi dampak positif terhadap organisasi itu dalam pemerintahan. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia juga didukung oleh basis masa yang kuat dari par pengikut tarikat. Meskipun memiliki wadah organisasi tarikat yang besar, yaitu  jam’iyyah ahl al -taiqa al-mu’tabara ternyata KH. Hasyim Asy’ari tidak memperkenankan aktivitas tarikat di lingkungan pesantrennya. Meskipun pada dekade 70-80 an terdapat beberapa guru di pesantren Tebuireng yang mengamalkan tarekat, tetapi mereka menjalankan aktivitasnya di luar Pesantren Tebuirang. Sebaliknya tarikat dan suluk mendapat tempat khusus di pesantren Rejoso yang dipimpin oleh KH. Romli yang sepeningggal beliau kepemimpinan tarekat diasuh oleh KH. Mustain Romli sampai akhir hayatnya. Begitu juga KH.Mustafa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus, dalam salah satu kisahnya ketika beliau akrab dengan Gus Mik, dan hampir-hampir mengikuti jejaknya pada suatu hari diperingatkan oleh ayahnya “ if yo go on like this you’ll end up as a wali, and his father had warned him ‘cut your hair, settle down, study books, and become a decent kyai ’” (Martin: 2010; 110)

Dalam pandangan penulis ketidak setujuan KH. Hasyim Asy’ari dalam pengamalan tarikat di lingkungan Pesantren Tebuireng bukan karena tarikat dipandang sebagai sebuah kekeliruan, akan tetapi sikap itu lebih ditunjukkan untuk lebih menjaga kekhasan Tebuireng  sebagai sebuah pesantren yang memiliki konsen tersendiri. Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan, bahwa perkembangan politik di Indonesia ternyata tidak lepas dari pengaruh tarikat. Meskipun keberadaan kyai-kyai tarikat tidak ingin terlibat langsung dengan politik, tetapi partai-partai politiklah yang kemudian mendekat demi tujuan agar mendapat sokongan kuat dari basis pengikut mereka. Dalam hal pendidikan pesantren, agaknya terdapat dua model, yaitu pesantren kitab dan pesantren tarekat. Pesantren kitab lebih mengkhususkan pada pendalaman kitab-kitab sedangkan pesantren tarekat lebih mengkhususkan pada pembersihan rohani dengan melalui zikir, wirid, dan ritual seremoni meskipun di beberapa pesantren tarekat juga terdapat sekolah-sekolah model klasikal dan kajian kitab-kitab klasik tetapi tidak seintensif pada pesantren kitab. Dan kesimpulan yang terpenting adalah antara pesantren kitab dan pesantren tarekat tidak pernah saling mencampuri urusan masing-masing seolah olah sudah ada kesepakatan akan job deskripsi masing-masing.

 Tarikat dan Nasionalisme

Seorang yang memiliki rasa cinta terhadap bangsa adalah orang yang di dalamnya mengalir darah nasionalisme. Rasa cinta negara ini terusik manakala negara dilecehkan orang lain atau dirong-rong kewibawaannya sehingga secara reflektif menyinggung perasaannya. Salah satu yang melatar belakangi perasaan nasionalisme adalah pendidikan, pengalaman, dan juga pengaruh sosila lingkungannya. Sejarah telah mebuktikan bahwa pada KH. Hasyim Asy’ari dalam forum para kiyai di Surabya, tepatnya tanggal 22 Oktober, 1945 mengeluarkan pernyataan yang dikenal dengn Resolusi  Jihad yang isinya diantaranya adalah sebagai berikut;

  • Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamaasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 hukumnya wajib dipertahankan
  • Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintah yang wajib dibela dan dipertahankan
  • Umat Islam Indonesia, terutama warga Nahdlatul Ulama wajib mengankat senjata melawan penjajah Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembli mejajah Indonesia
  • Kewajiban itu adalah suatu jihad yang menjadi kewajiban setiap orang Islam (fardhu ‘ain) yang berada pada radius 94 km., yaitu jarak di mana umat Islam diperkenankan untuk melakukan shalat jama’ qashar. Adapun bagi yang berada di luar radius 94 km. berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada pada radius 94 km. (Ali Maschan; 2007: 268

Selanjutnya pada keputusan Muktama ke – 27 di Situbondo tahun 1984 ditegaskan bahwa Asas Tunggal Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final bagi upaya umat Islam mendirikan negara. Oleh sebab itu definisi Bangsa menurut keputusan tersebut adalah sekelompok orang yang karena berada di wilayah geografis tertentu dan memiliki kesamaan mengikatkan diri dalam suatu sistem dan tatanan kehidupan. Pengelompokan tersebut merupakan realitas kehiupan yang diyakini sebagai kebutuhan manusia yang fitri. Hasil penelitan Ali Maschsan (2007) tentang Nasionalisme kyai mengemukakan bahwa para kiyai Pesantren memaknai negara dan para pemegang kekuasaan pemerintah adalah dunia sosial sebagai suatu realitas. Oleh sebab itu dialog intersubjektifitas antara para kiyai dengan realitas yang beada di luar dirinya sangat memungkinkan terjadinya makna-makna baru dimana hasil dialog ini berakhir dengan integrasi makna-makna yang sebelumnya dianggap sebagai institusi yang saling berhadap-hadapan. (Ali Mashan: 2007; 272) Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan, bahwa pesantren sebagai basis penyebaran tarikat ternyata berhasil melahirkan kesadaran nasionalisme yang tinggi. Sikap nasionalisme ini tentu tidak terbentuk begitu saja tanpa adanya suri tauladan dari para mursyid dan guru tarekat, tetapi juga dibentuk oleh lingkungan pendidikan sebagaimana lingkungan di pesantren. Bukan saja ketika saat berhadapan dengan penjajah tapi sikap itu juga tertuang dalam pendeklarasian pentingnya menjaga NKRI sebagai sebuah sunnatullah yang harus dibela keberadaannya dari segala bentuk tindakan distruktif yang mengancam terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Akan tetapi mengingat kondisi perkembangan zaman yang terus berubah dengan masuknya barbagai aliran Islam ke Indonesia maka perlu dilakukan upaya-upaya yang lebih sinergis.

  1. Penutup

Tarekat sebagai sebuah ajaran memiliki dimensi yang amat luas, meliputi olah lahir dan olah bathin. Sifatnya yang multidimensi ini menyebabkan tarekat dilakukan dengan cara berguru, tidak bisa diamalkan sendiri tanpa bimbingan guru. Dalam gerakannya yang akomodatif, tarekat mudah diterima oleh masyarakat secara luas tidak terkecuali di Indonesia terutama pada awal penyebaran Islam di Indonesia. Tarekat yang berkembang pesat melalui institusi pendidikan, pesantren, dan kini perguruan tinggi ternyata mampu meyebar secara luas di indonesia dan berhasil membentuk karakter umat Islam di Indonesia yang khas. Institusi pesantren tarekat maupun pesantren kitab sebagai induk penyebaran tarekat ternyata telah berjasa dalam melestarikan dan menyemaikan pendidikan kebangsaan dan mempertahankan NKRI. Tentunya penginternalisasian inti ajaran tarekat ke dedepan perlu diperkuat lagi dari berbagai sisi disamping perlu filterisasi dari ajaran-ajaran dan praktek yang tarekat yang dianggap menyimpang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *